Masjid Menara Layur, Saksi Bisu Kejayaan Kali Semarang
Sejarah perkembangan Islam di Semarang tak bisa dipisahkan dari
keberadaan Masjid Menara di Kampung Melayu, Kelurahan Dadapsari Semarang
Utara. Masjid yang berada di Jalan Layur ini menyimpan banyak kisah bersejarah
tentang aktivitas bisnis di Kali Semarang yang kerap dilalui saudagar-saudagar
dari Timur Tengah.
Ali, pengurus Masjid Menara mengungkapkan, waktu itu penduduk di
sekitar masjid ini berdiri sebagian besar adalah orang Melayu. Hal inilah
yang akhirnya melatarbelakangi lahirnya nama Kampung Melayu. Tetapi saat ini
hampir tidak ada keturunan asli Suku Melayu di Kampung Melayu.
Nama menara sendiri disematkan pada masjid ini karena keberadaan
menara yang menjulang tinggi di bagian depan masjid. Dulunya, menara
tersebut difungsikan sebagai mercusuar untuk mengawasi kapal-kapal yang
berlalu-lalang di Kali Semarang. Namun di akhir abad ke-18, menara itu tidak
lagi difungsikan sebagai mercusuar dan selanjutnya dijadikan masjid oleh para
saudagar Arab yang berasal dari Yaman.
Namun saat ini kondisi Kali Semarang tidak lagi sama seperti
pada masa lalu. Transportasi air tak memungkinkan untuk dilakukan. Meski
kawasan di sekitarnya mengalami perubahan, bangunan masjid ini masih tetap
terjaga orisinalitasnya kecuali letak tempat wudhu yang dipindah ke sisi
kiri bangunan.
Selain itu, tinggi bangunan masjid juga berkurang. Menurut
Ali, awalnya masjid ini tinggi seperti panggung. “Ada sepuluh tangga dulu,
sekarang cuma tinggal tiga. Rob membuat warga harus meninggikan
tanah di sekitar masjid. Hal inilah yang menjadikan ketinggian masjid
berkurang. Masjid ini juga berperan dalam penyebaran agama Islam di
Semarang,” imbuh Ali.
Meski zaman berubah, Kali Semarang juga tak lagi berfungsi
sebagai jalur perdagangan. Namun, Masjid Menara tetap berdiri kokoh. Masjid
ini menjadi saksi sejarah bahwa Semarang pernah menjadi pusat bisnis yang
menggiurkan bagi pendatang dari jazirah Arab.hjkarpet.com

Komentar
Posting Komentar