Inilah Keistimewaan Masjid Agung Banten yang Wajib Diketahui
Masjid Agung Banten yang terletak di utara Kota Serang, Provinsi Banten merupakan
situs wisata religi yang berdiri kokoh sebagai lambang peradaban budaya Islam
yang bertahan hingga saat ini. Masjid ini mudah dikenali karena bentuk
menaranya yang menyerupai mercusuar. Sejak dibangun pertama kali pada tahun
1556 semasa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, masjid ini telah menjadi
salah satu bangunan tertua di Indonesia yang kaya akan nilai sejarah karena
merupakan pusat penyebaran agama islam di Banten.
Masjid Agung Banten
terbilang istimewa. Karena selain biasa dijadikan sebagai objek wisata religi
dengan berziarah ke makam-makam para sultan Banten beserta keluarga yang
terdapat di dalamnya, masjid ini juga menyimpan peninggalan bersejarah kerajaan
islam Banten sekitar abad ke-16 masehi.
Selain itu,
arsitektur bangunannya terbilang cukup unik karena memadukan ciri khas bangunan
Jawa Hindu, Eropa, dan Cina. Hal ini karena masjid dirancang oleh tiga
arsitektur berbeda yaitu arsitek Majapahit bernama Raden Sepat, arsitek Cina
asal Tiongkok bernama Tjek Ban Tjut (baca: Cek ban su) yang diberi gelar
pangeran Adiguna, serta arsitek Belanda beragama islam yang melarikan diri dari
Batavia bernama Hendrik Lucaz Cardeel dan diberi gelar pangeran Wiraguna.
Raden Sepat merupakan
arsitek berpengalaman yang juga berjasa membangun masjid agung Cirebon dan
masjid Demak. Sementara Tjek Ban Tjut menyumbangkan karya uniknya pada atap
utama masjid dengan bentuk bangunan bersusun lima menyerupai pagoda, sekaligus
serambi masjid di bagian utara dan selatan, juga bagian tangga masjid. Hendrik
Lucaz Cardeel sendiri ikut andil menyumbangkan rancangan terpentingnya berupa
Tiyamah, yaitu bangunan dua lantai berbentuk persegi panjang bergaya arsitektur
Belanda kuno, dan menara unik berbentuk segi delapan setinggi 23 m dengan 83
undakan anak tangga di sebelah timur masjid yang hingga saat ini menjadi
semacam penanda berdirinya Masjid Agung Banten.
Pada zaman
dahulu, menara masjid agung ini selain digunakan untuk mengumandangkan adzan,
digunakan juga untuk menyimpan persenjataan penduduk Banten. Kini, menaranya
digunakan juga untuk sekadar menikmati pemandangan di perairan lepas pantai.
Sementara Tiyamah sebelum dijadikan museum benda-benda peninggalan kesultanan
Banten, dulunya lebih sering digunakan sebagai tempat pertemuan penting untuk
membahas kegiatan agama dan sosial.
Keunikan
lainnya, berbagai bangunan inti serta pelengkapnya yang dirancang di dalam
serta di luar masjid seperti ornamen pada pintu, jumlah dan tinggi pintu,
jumlah tiang penyangga atap, hingga bentuk mimbar yang antik, dan lain
sebagainya kesemuanya diperhitungkan dengan teliti dan memiliki filosofi serta
simbol masing-masing.
Misalnya saja 24 tiang penyangga atap dalam bangunan inti masjid merupakan simbol waktu dalam sehari sedangkan masing-masing tiang yang berbentuk segi delapan menandakan tiga pembagian waktu dari 24 jam, yaitu untuk ibadah, untuk bekerja dan mencari penghidupan, serta untuk istirahat. Begitu pula dengan umpak batu andesit berbentuk labu ukuran besar yang terdapat pada tiap dasar tiang masjid dan juga pendopo digambarkan sebagai simbol pertanian untuk mengingatkan serta menunjukkan kemakmuran kesultanan Banten lama pada masanya,
Misalnya saja 24 tiang penyangga atap dalam bangunan inti masjid merupakan simbol waktu dalam sehari sedangkan masing-masing tiang yang berbentuk segi delapan menandakan tiga pembagian waktu dari 24 jam, yaitu untuk ibadah, untuk bekerja dan mencari penghidupan, serta untuk istirahat. Begitu pula dengan umpak batu andesit berbentuk labu ukuran besar yang terdapat pada tiap dasar tiang masjid dan juga pendopo digambarkan sebagai simbol pertanian untuk mengingatkan serta menunjukkan kemakmuran kesultanan Banten lama pada masanya,
Selain itu,
di bagian depan masjid juga terdapat istimewa, yaitu alat pengukur waktu sholat
tradisional berbentuk kubah yang menggunakan bantuan sinar matahari untuk
mengetahui ketepatan waktu sholat. Hingga sekarang, Masjid Agung Banten tidak
pernah sepi pengunjung. Selain ramai oleh para peziarah, masjid ini juga
menjadi objek multiwisata yang memberikan nilai luhur dari peninggalan kejayaan
kesultanan Banten di masa lampau.hjkarpet.com

Komentar
Posting Komentar